Blind optimism

Sakit. Hanya itu sebenarnya. Tapi aku rasakan berulang-ulang. Selama bertahun-tahun. Jika diumur yg lalu aku cenderung untuk talking back, diumurku yg sekarang ini aku berlatih untuk diam. Walaupun tentunya ketika aku diam, rasa sakit itu akan menetap dalam diri, karena tidak terungkap kan dalam kata.
Rasa sakit yg menimbulkan sesak di dada, panas di pelupuk mata, hingga hanya titik titik air itu yg berbicara. Tentang optimisme nya akan suatu respon yg lebih positif. Tapi itu hanyalah sebuah optimisme buta, blind optimisme. Itu hanyalah sebuah harapan unrealistic.
Lalu aku dijatuhkan, lebih dalam lagi. Seperti belum cukup, apa yg telah aku usahakan diinjak, hingga hancur, hingga rasanya penyesalan itu datang, mengapa aku harus berusaha mati-matian jika hanya untuk dihancurkan?
Kata kata yg masuk ke telingaku dan kata kata yg tidak aku ijinkan terucap dari lidahku seakan bekerja sama, menghancurkan diriku, mengorek luka itu lebih dalam. Aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Pikiran-pikiran untuk menghilangkan napas secara paksa berkelabat, walaupun itu bukan hak ku untuk menghilangkan nya. Aku takut dan sakit sekaligus. Usahaku untuk membahagiakan mu sia-sia. Aku malah mendorong ku agar aku semakin terperosok pada perasan bersalah itu. Apa aku belum cukup?
Setiap aku membaca buku permasalahan anak, aku seperti membaca diriku sendiri. Tapi aku bukan lah seorang anak lagi. Aku dipaksa untuk menjadi dewasa, namun diperlakukan begitu seperti anak anak. Pemikiran ku tidak ada harga nya, tidak berguna, salah. Lalu aku bertanya sekali lagi pada diriku, kamu mau apa ? Aku tidak berani menjawab nya, dan tidur sebagai pelarian paling baik.


-rchynntn/ 060718, 23:19

Komentar